Cinta adalah salah satu sumber
kekuatan unik dalam diri manusia. Ia menjadi tenaga penggerak hati dan
jiwa yang akan menghasilkan sikap, perbuatan dan perilaku. Cinta bisa
seperti yang terurai dalam sebait sajak dari film laris indonesia,
Ketika Cinta Bertasbih:
Bagi seorang muslim dan beriman,
cnta terbesar dan cinta hakiki ialah cinta kepada Allah. Bentuk cinta
dapat kita wujudkan dalam berbagai rupa tanpa batas ruang dan waktu dan
kepada siapa atau apa saja asalkan semuanya bersumber dari kecintaan
kita kepada Allah dan karena menggapai ridha-Nya.
Dan diantara manusia ada
orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (Al-Baqarah: 165)
Jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah, ikutilah aku (ikutilah Muhammad saw.), niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. (Ali Imran: 31)
“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. At Tirmidzi)
Makna ‘Cinta Sejati’ terus dicari dan digali. Manusia dari zaman ke
zaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya. Sebenarnya? apa itu
‘Cinta Sejati’ dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.
0 komentar:
Posting Komentar